Laman

*** BINA PSIKOLOGI SURABAYA *** Alamat : Jl. Kedung Tarukan 2 / 31-A Surabaya, Telp. 03170272815 / 0817309685, email : mudhar.bps@gmail.com

Jumat, 11 Februari 2011

Manfaat Mengenal Bakat

1. Untuk mengetahui potensi diri
Bakat merupakan kemampuan yang lebih menonjol daripada yang lain, baik secara intelektual (teoritis) maupun secara praktis. Bakat merupakan potensi yang dimiliki seseorang karena faktor genetik. Potensi yang dimiliki anak banyak ragamnya, bisa ratusan bahkan ribuan potensi yang dimiliki, namun tentunya hanya ada satu atau dua potensi yang paling menonjol. Tidak mungkin semua potensi yang dimiliki dapat dikembangkan semuanya, hanya potensi-potensi tertentu yang paling menonjol saja yang perlu dikembangkan. Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita jadi tahu potensi kita dan bisa dikembangkan.
2. Untuk merencanakan masa depan
Meraih masa depan harus dipersiapkan sejak dini, perencanaan masa depan atau cita-cita perlu menjadi pertimbangan yang sangat penting.  Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa merencanakan mengembangkannya dengan demikian juga turut merencanakan masa depan
3. Untuk menentukan tugas atau kegiatan
Efektivitas pekerjaan sangat tergantung dari bekal kemampuan yang dimiliki, ketika aktivitas pekerjaan sesuai dengan bakatnya entunya hasilnya akan jauh lebih bagus atau lebih maksimal dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat atau potensinya. Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa memilih kegiatan apa yang akan kita lakukan sesuai dengan bakat yang kita miliki.

Kamis, 10 Februari 2011

Bagaimana Mengetahui Bakat Anak ?


Bakat merupakan kemampuan yang lebih menonjol daripada yang lain, baik secara intelektual (teoritis) maupun secara praktis, dimana kedua-duanya memiliki posisi kualitas yang tinggi. Seringkali orangtua merasa benar anaknya memiliki bakat seperti orangtuanya. Maka orangtua pun mencoba membawa anaknya untuk les bahasa Inggris, piano, balet, dan sebagainya. Namun pada akhirnya pengembangan bakat yang diperkirakan akan berpotensi besar nantinya, tidaklah demikian. Malah sebaliknya, bakat tidak berkembang sama sekali. Padahal setap anak itu unik dan memiliki karakter, bakat, dan potensi yang berbeda-beda. 
Setiap anak dipercaya dan dinyakini memiliki bakat sendiri-sendiri.Namun bakat anak ini tidak bisa langsung terlihat begitu saja. Karenanya orang tua harus mengenali dan memahami bakat yang dimiliki anaknya. Dengan memahami bakat anak, akan lebih mudah dan terarah dalam mengembangkannya.
Memahami bakat anak merupakan langkah awal dalam membantu anak meraih masa depannya. Tetapi tahukah kita batasan-batasan tentang keberbakatan itu sendiri dan apa tantangan yang dihadapai dalam mengarahkannya? Apakah anak kita benar berbakat di bidang tertentu atau tidak? Apa yang orang tua dapat lakukan untuk mengenali dan mengembangkan bakat anaknya. Dan apa yang harus diwaspadai agar usaha yang kita lakukan tidak berbuah simalakama. Terlalu ngoyo dalam mendorong salah, tidak didorong pun juga salah. Karena itu penulis mengajak anda untuk menyimak hal-hal yang mendasar tentang keberbakatan ini.
Beberapa cara untuk mengenal bakat anak :
1. Melalui Pengalaman
Bakat merupakan kemampuan yang menonjol dari pada kemamapuan yang lain, untuk mengetahun kemampuan yang mennjol ini perlu dilihat dari bentuk kemampuan dari masing-masing aktivitas yang dilakukan, jadi untuk mengetahui aktivitas atau kegiatan mana yang paling menonjol adalah melalui pengalamannya. Ketika mencoba hal tertentu, ternyata mengalami banyak kemajuan. Seringkali bakat juga dikaitkan dengan hobby, walaupun sebenarnya antara bakat dan hobby tidak ada korelasinya, tapi dengan melihat kegiatan yang sering dilakukan (hobby) itu merupakan indikator awal untuk mengetahui bakat seseorang. Mengetahui bakat anak dari perilaku atau pengalaman ini adalah suatu cara yang sangat mudah dan murah, tidak perlu membutuhkan keahlian atau keilmuan tertentu, cukup dengan melihat dan memperhatikan perilaku anak setiap hari sudah memungkinkan untuk dapat memprediksi bakat anak, walaupun cara ini masih diragukan keakuratannya.
2. Mengikuti Test Bakat
Jaman sekarang yang sekarang sudah banyak terdia alat tes untuk mengukur bakat seseorang. Perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya bidang psikologi telah banyak membantu seseorang untuk mengetahui bakatnya. Namun tidak semua orang bisa melakukan pengukuran bakat ini, masih butuh keahlian dan ilmu untuk bisa melakukan tes bakat. Sebenarnya di berbagai toko buku juga banyak ditemukan banyak ragam alat tes yang dijual bebas, namun alat yang dijual bebas tersebut masih diragukan validitasnya, oleh karena itu lebih baik dari ke biro psikologi untuk mengetahui bakat anak.
3. Metode Fingerprint
Leonardus Eko W direktur eksekutif Brain Child Learning menjelaskan metode fingerprint atau sidik jari ini, dipercaya bisa mengetahui bakat anak sejak dini. Metode ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dengan akurasi 95%. Namun dikalangan ilmuan psikologi masih menjadi perdebatan, tapi semua ini merupakan salah satu bentu usaha untuk mengetahui bakat anak.
Terus kalau sudah diketahui bakatnya ? Untuk apa ?

Selasa, 08 Februari 2011

BAKAT ANAK

Setiap anak lahir dengan potensi dan bakatnya masing-masing. Sayang, setiap orangtua tidak dapat dengan mudah memahami bakat anaknya, terkadang kita sebagai orang tua kurang peka terhadap bakat yang dimiliki putra putrinya. Akibatnya banyak bakat yang tidak dapat  terdeteksi dan tidak dapat dikembangkan sejak dini dan bahkan hilang begitu saja. Apa bakat anak Anda? Menyanyi? Bermain sepak bola? Menulis puisi? Menggambar? Bila hingga saat ini Anda belum memiliki gambaran apa bakat anak anda, segera cari tahu. Mengenali bakat anak memang butuh kecermatan. Jangan juga bakat tidak bisa disamakan dengan pintar. Berbakat berarti memiliki potensi, sedangkan kepintaran didapat dari ketekunan mempelajari sesuatu. Dan hasilnyapun akan berbeda, ketekunan yang tidak dibekali bakat tentu hasilnya tidak sebaik jika ketekunan iti disertai dengan bakat. Sebaliknya juga jika bakat anak tidak didukung lingkungan, ia tak akan berkembang, bakat itu hanya akan terpendam.

SERINGKALI orangtua merasa benar dan merasa pintar bahwa anaknya memiliki bakat seperti orangtuanya. Maka orangtua pun mencoba membawa anaknya untuk les bahasa Inggris, piano, balet, dan sebagainya. Namun pada akhirnya maksud pengembangan bakat anaknya yang diperkirakan akan berkembang pesat nantinya, namun terkadang tidaklah demikian. Kegagalan tidak jarang yang diperoleh, bakat tidak berkembang sama sekali, padahal niat dan usaha orang tua untuk mengembangkan anaknya sedemikian besarnya. Tidak memperdulikan biaya yang akan dikeluarkan demi pengembangan bakat putra-putrinya. Berbagai tempat les, berbagai tempat pengembangan bakat anak, berbagai tempat audisi telah didatangi, hanya dengan satu tujuan, yaitu Bakat Anak.  Padahal setiap anak itu unik dan memiliki karakter, bakat, dan potensi yang berbeda-beda. Tidak semua bakat yang dimilliki orang tuanya dapat diturunkan secara genetik kepada putra putrinya.
Ada anak yang bakatnya terlihat jelas sehingga mudah dikenali. Namun, ada juga yang terlalu menonjol. Keduanya tentu membutuhkan perlakuan yang beda pada awalnya. Lantaran itu berikanlah kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai kegiatan yang bervariasi sehingga dapat menggali dan menemukan bakatnya.
Fudyartanta (2005) mengemukakan bahwa bakat merupakan kemampuan yang lebih menonjol daripada yang lain, baik secara intelektual (teoritis) maupun secara praktis, dimana kedua-duanya memiliki posisi kualitas yang tinggi.
Guildford (Sunaryo, 2004) mengemukakan bahwa bakat bertalian dengan kecakapan untuk melakukan sesuatu.
Sukardi (Sunaryo, 2004) mengartikan bakat sebagai suatu kondisi atau kualitas yang dimiliki oleh individu yang memungkinkan dirinya dapat berkembang di masa yang akan datang.
Prinsipnya bakat merupakan potensi yang dimiliki orang seseorang, potensi ini (bakat) cenderung lebih menonjol dibandingkan dengan potensi-potensi lain yang dimiliki. Kemampuan yang dimiliki setiap orang bermacam-macam, bisa ratusan bahkan ribuan kemampuan yang dimiliki. Setiap kemampuan memiliki kualitas yang bebeda dengan potensi yang lain. Ada salah satu potensi yang paling dominan dari pada potensi yang lain. Potensi yang paling dominan inilah yang disebut dengan BAKAT. Bagaimanakah cara mengetahui BAKAT … ?

Rabu, 02 Februari 2011

Leadership dan Outbound Training


Sukses sebuah organisasi sangat tergantung dari kemampuan si pemimpin dalam menggerakkan seluruh anggota perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Para manajer selaku pemimpin di dalam perusahaan dewasa ini menghadapi banyak tantangan baru. Mereka harus mampu menjadi pemimpin transformasional yang mampu menggerakkan para pengikut agar memiliki motivasi tinggi mewujudkan cita-cita ideal perusahaan. Mereka harus mampu mendorong anak buah mereka untuk memunculkan seluruh motivasi insani yang ada agar menimbulkan kinerja yang bernilai tinggi dan jauh melebihi ekspektasi perusahaan. Sebaliknya, seorang manajes juga harus mampu meningkatkan kesejahteraan anak buah mereka, sehingga mereka semua akan memperolah bagian yang adil dari usaha dan jerih payah keringat mereka. Para manajer sebagai leader juga harus mampu menghadapi masalah dunia bisnis yang semakin kompleks. Harus mampu mempertemukan kepentingan banyak pihak.
Dalam pelatihan outbound training, setiap individu peserta outbound dipicu untuk belajar menjadi seorang pemimpin (leader). Peserta outbound training juga diajak untuk berusaha menciptakan pengetahuan baru yang bersumber dari pengetahuan yang berbeda-beda. Peserta outbound training juga diajak agar berusaha menjadi pemimpin yang sinergistik.
Pada saat ini, dunia kerja menjadi semakin kompleks. Jika dulu setiap karyawan dapat bekerja secara individu berdasarkan petunjuk yang baku, maka kini dalam suatu pekerjaan diperlukan kontribusi dari suatu tim kerja (team work) yang bekerja secara terpadu. Suatu tim kerja yang efektif memerlukan pemimpin yang tepatyang mampu memadukan kompetensi individual dari masing-masing anggota team menjadi kompetensi team yang sinergik dan berkualitas.
Pemimpin (leader) yang sinergik perlu memahami tatakrama dan budaya kerja yang berlaku diperusahaannya dan mampu mengambil tindakan yang tepat untuk memfasilitasi komunikasi intra dan antar tim yang serasi sesuai dengan tatakrama dan budaya kerja perusahaan team tersebut berada.
Pemimpin di dalam era perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat ini harus memiliki kompetensi sebagai berikut :
1.        Memahami lingkungan dunia bisnis yang kompleks, dinamik dan penuh perubahan
2.       Kerja dalam tim, kolaburasi, dan aliansi strategik
3.       Memahami perbedaan dapat menjadi sumber inovasi
4.       Memahami peran kepemimpinan
5.        Memahami fungsi komunikasi dalam proses interaksi yang sinergik
6.       Memahami proses penyelarasan yang sinergik
7.        Memahami iklim kerja yang transformasional
8.       Memahami makna dan hakekat aliansi strategik.
Dalam kegiatan outbound training, untuk melatih jiwa leadership peserta outbound training sangat diperlukan, hal ini hanya akan berhasil bila kegiatan outbound training dilakukan oleh lembaga professional, dengan fasilitator yang berpengalaman dan tahapan-tahapan dalam kegiatan outbound benar-benar dilaksanakan.

Selasa, 01 Februari 2011

PENGUPAHAN

Seseorang bekerja karena adanya dorongan atau kebutuhan (need) untuk memenuhi hidupnya. Pada teori hirarki dari Maslow, upah merupakan kebutuhan yang bersifat biologi (phisiological need). Didalam duania industri, upah merupakan suatu hal yang paling utama jika dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan yang lain. Tidak jarang karyawan atau buruh melakukan demonstrasi karena persoalan upah yang dianggap kurang layak.Tidak sedikit karyawan yang malas bekerja, berkeja dengan asal-asalan dengan alasan karena upah yang tidak mencukupi. Masih banyak dosen yang nyambi ditempat lain dengan alasan pendapatan yang diperoleh masih kurang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Kasus karyawan PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) yang sampai sekarang belum selesai, salah satunya bahkan persoalan yang utama karena mereka merasa akan kehilangan mata pencahariannya, yang ujungnya adalah matinya sumber pendapatan keluarga.
Upah merupakan uang yang diterima karyawan atau buruh sebagai ganti pekerjaan. Dengan demikian upah merupakan hadiah kerja yang diberikan karyawan dalam bentuk finansial sebagai balas jasa atau ganti dari tenaga atau pikran karyawan yang diberikan kepada perusahaan. Dengan kata lain, upah dapat disimpulkan sebagai penghargaan dari energi karyawan yang dimanefestasikan sebagai hasil produksi, atau suatu jasa yang dianggap dengan itu, yang berwujud uang, tanpa jaminan pasti dalam tiap minggu atau bulan.

Upah dan Gaji

Sering kali pengertian upah dan gaji dipersamakan, walaupun pada hakekatnya keduanya sangat sulit untuk dipersamakan. Gaji sebenarnya merpakan upah, namun gaji lebih konsisten atau tetap jika dibandingkan dengan upah. Banyaknya gaji atau uang yang diterima karyawan sudah dapat dipastikan jumlah yang akan diterima dalam setiap bulannya. Purwodarminto mengatakan bahwa gaji adalah upah kerja yang dibayarkan dalam waktu tetap. Namun tidak hanya waktunya yang tetap, namun juga banyaknya upah yang diterima juga tetap.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan gaji dan upah terletak pada jaminan ketepatan waktu dan kepastian besarnya upah.

Sistem Upah

Struktur sosial ekonomi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sedemikian pesatnya, sehingga kompetisi dalam dunia industri demikian ketatnya. Para pencari kerja semakin hari semakin bertambah, sektor ekonomi dan industri di Indonesia masih belum mampu beranjak dari tempat tidurnya. Dengan demikian kerja dan upah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Secara umum sistem upah dapat dikelompokkan dalam :
  1. Sistem Upah menurut banyaknya produksi
  2. Sistem Upah menurut lamnaya kerja
  3. Sistem Upah menurut lamanya dinas
  4. Sistem Upah menurut kebutuhan

Sistem Upah Menurut Banyaknya Produksi

Sistem upah ini diberikan kepada karyawan atas dasar produk yang dihasilkan baik secara kualitas maupun kuantitas. Upah ini dapat mendorong karyawan untuk lebih keras dan terus meng-apgrade diri agar berproduksi lebih banyak. Pengupahan seperti ini mampu membedakan karyawan-karyawan yang berkemampuan tinggi dengan yang kurang memiliki kemampuan. Sistem ini sangat menguntungkan bagi mereka yang cerdas dan energic, tetapi kurang menguntungkan bagi karyawan yang kemampuannya sudah mulai menurun, orang yang lanjut usia dan yan inferior.
Produksi yang dihasilkan dapat dihargai dengan diperhitungkan ongkosnya. Besarnya upah dapat dicari dengan menghitung ongkos produksinya.

Sistem Upah Menurut Lamnaya Kerja

Sistem ini berdasarkan jumlah waktu yang telah dilakukan oleh karyawan, upah per-jam, upah mingguan, upah bulanan. Sistem upah seperti ini telah gagal dalam mengatur adanya perbedaan individu, artinya bagi karyawan yang yang energic dan cerdas upahnya tidak berbeda dengan karyawan yang loyo dan kurang mampu, sehingga semua karyawan dianggap dan diperlakukan sama.
Akibat dari sistem pengupahan seperti ini orang-orang yang superior merasa segan untuk berproduksi lebih dari kewajiban yang dibebabnkan perusahaan. Tekanan sosial dan kemungkinan dipecat akan menghantui karyawan yang akhirnya akan mempengaruhi perilaku karyawan itu sendiri. Sistem ini sebenarnya lebih menguntungkan bagi karyawan yang kurang potensial dan yang sudah lanjut usia. Bagi karyawan seperti ini akan menimbulkan ketentraman karena upah sudah dapat dihitung, terlepas dari kelambanan dalam bekerja, keterlambatan bahan baku untuk kerja, kerusakan alat, sakit dan lain sebagainya.

Sistem Upah Menurut Lamanya Dinas

Sistem pengupahan ini didasarkan atas senioritas dari karyawan. karyawan yang sudah lama bekerja akan dibayar lebih mahal dibandingkan dengan karyawan baru. Sistem ini sangat efektif untuk menumbuhkan rasa setia dan loyalitas terhadap perusahaan. sistem ini sangat menguntungkan bagi karyawan yang sudah lanjut usia dan bagi orang-orang muda yang didorong untuk tetap masih bekerja di suatu perusahaan sampai masa tua, hal ini disebabkan adanya harapan bila sudah tua akan lebih mendapatkan perhatian dari perusahaan. Sisi negatif dari sistem ini adalah kurang mampu memotivasi karyawan untuk dapat bekerja dengan lebih baik.

Sistem Upah Menurut Kebutuhan

Sistem upah seperti ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan hidup keluarga, artinya upah akan diberikan lebih besar kepada mereka yang sudah kawin atau berkeluarga bahka bagi mereka yang sudah memiliki anak.
Salah satu kelemahan dari sistem ini adalah tidak mampu mendorong inisiatif kerja, sehingga lebih kurang sama dengan sistem upah yang berdasarkan lama kerja dan senioritas. Segi positifnya adalah akan memberikan rasa aman karena nasib setiap karyawan menjadi tanggungjawab perusahaan, semua kebutuhan hidupnya termasuk sandang, pangan, papan, pengobatan, kesehatan dan lain sebagainya akan disumbang oleh perusahaan.

Upah Perangsang

Dari semua sistem pengupanan terdapat sisi positif maupun sisi negatif, ada untung ruginya. Usaha untuk meminimalkan sisi negatif dan mengoptimalkan aspek positif dari sistem pengupahan yang telah dibicarakan diatas maka perlu adanya sistem pengupahan tambahan untuk merangsang karyawan agar dapat bekerja secara optimal, yaitu sistem upah perangsang. Upah perangsang ini bisa berupa bonus, komisi, premi dan lain sebagainya.

Syarat-Syarat dalam Pengupahan

  1. Adil bagi pekerja dan Pimpinan perusahaan
  2. Pengupahan sebaiknya dapat menjadi motivator karyawan untuk meningkatkan produktivitas kerja
  3. Selain upah dasar juga perlu disediakan upah perangsang sebagai imbalan terhadap tenaga ekstra yang dikeluarkan karyawan
  4. Sitem upah sebaiknya mudah dimengerti dan dipahami oleh semua pihak.

Minggu, 30 Januari 2011

MOTIVASI BERPRESTASI SUATU TINJAUAN LINTAS BUDAYA

A. Pendahuluan.
         Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial, individual, dan berketuhanan (W.,A., Gerungan, 1991).  Sebagai makhluk sosial, individual, dan berketuhanan, ia tidak dapat melepaskan dari aktivitas atau kegiatan sehari-hari yang lazin dilakukan guna memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisiologis, psikologis, dan sosiologis. 
          Kebutuhan merupakan sumber dorongan manusia dalam melakukan suatu aktivitas, apakah aktivitas belajar, aktivitas bekerja, aktivitas berolahraga, aktivitas rekreasi, maupun aktivitas lainnya dalam kehidupan.
         Dalam melakukan aktivitas sehari-hari,   manusia memiliki kecenderungan untuk mencapai prestasi yang optimal sesuai dengan kemampuan dan keinginannya.   Misalnya dalam kegiatan belajar, ia melakukan rangkaian aktivitas belajar untuk mencapai  prestasi belajar yang tinggi.    Di sisi lain, prestasi yang dicapai dipengaruhi oleh intensitas usahanya, dan intensitas usaha itu juga dipengaruhi oleh dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. 
         Berbagai ragam dorongan yang dimiliki oleh individu   untuk mencapai prestasi,  disebut motivasi berprestasi.  Motivasi berprestasi  berperan memacu motif (daya) yang mendorong perilaku individu  untuk memperoleh prestasi yang tinggi.  Jadi prestasi yang tinggi ini sebagai kebutuhan yang ingin dicapai.  Kebutuhan dan dorongan-dorongan merangsang seseorang untuk berbuat atau bertingkah laku (Kartini Kartono, 1994).
      Perbuatan atau tingkah laku seseorang dipengaruhi oleh budaya di mana ia bertempat tinggal.  Koentjaraningrat (1986) menyatakan bahwa berbagai tindakan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh makhluk manusia dalam gennya bersama-sama kelahirannya misalnya tindakan makan, minum, atau berjalan dengan kedua kakinya, juga dirombak olehnya menjadi tindakan berkebudayaan. 

        Pendapat itu lebih mendeskripsikan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh budaya, artinya  perbedaan budaya menentukan perbedaan perilaku.   Ilustrasi ini,  memberikan pemahaman kepada kita bahwa motivasi berprestasi juga dipengaruhi oleh budaya.  Lingkungan  budaya yang memacu seseorang terdorong melakukan aktivitas,  besar manfaatnya bila dibandingkan dengan lingkungan budaya yang justru melemahkan aktivitas.   Seseorang yang hidup di suatu budaya yang memacu motivasi berprestasi, berbeda dengan seseorang yang hidup di suatu   budaya yang melemahkan motivasi berprestasi.  Pada lingkungan budaya yang memacu motivasi berprestasi, memberikan nilai psikologis untuk memiliki keinginan bersaing,  yaitu keinginan untuk mengalahkan temannya dalam berbagai aktivitas, misalnya aktivitas belajar, aktivitas berolahraga, dan aktivitas bekerja.  Sedangkan pada lingkungan budaya yang melemahkan motivasi berprestasi,  tidak memberikan nilai  psikologis  untuk bersaing.  
         Yapsir Gandi Wirawan (1994) mengutip penemuan Ruith Benedict seorang sarjana anthropologi, bahwa dorongan bersaing yang dulu juga dianggap sebagai instink ternyata juga berbeda-beda bergantung sekali kepada kebudayaan yang bersangkutan. Dorongan bersaing tidak dapat ditemukan pada suku Indiann Zuni yang selalu akan membantu keluarga lain yang mengalami kesukaran. Demikian pula dorongan ini tidak ditemukan pada suku Hopi, Arapesh, dan Pueblo. Sebaliknya dorongan bersaing yang sangat berlebihan ditemukan pada suku Indian Kwakiutl.
         Berdasarkan pendapat, penemuan, dan uraian  di atas, penulis  menyimpulkan bahwa motivasi berprestasi sebagai salah satu wujud perilaku manusia juga dipengaruhi oleh budaya.

B.  Konsep motivasi berprestasi.
               Pengertian motivasi berprestasi.  Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (1990)  motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang, sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.  W.,S., Winkel (1984) mengemukakan  motivasi adalah semua yang berhubungan dengan timbulnya dan berlangsungnya motif.  Sedangkan motif ialah segala daya yang mendorong subyek melakukan sesuatu.   Lebih lanjut (Sumadi Suryabrata,  1990) menyatakan  motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai sesuatu tujuan.
          Prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan suatu usaha.  Hartono (1996) menyatakan  prestasi ialah suatu istilah yang digunakan untuk menunjuk suatu pencapian tingkat keberhasilan tentang sesuatu tujuan, karena sesuatu usaha telah dilakukan oleh seseorang.
           Apabila kedua konsep tersebut dipadukan, maka motivasi berprestasi bisa diartikan sebagai suatu dorongan atau berbagai faktor yang menimbulkan motif (daya) yang mendorong  seseorang untuk melakukan perilaku yang memiliki intensitas kuat dalam mencapai prestasi.  Berbagai faktor atau dorongan itu, berperan memacu motif untuk mengerakan aktivitas atau perilaku seseorang dalam mencapai prestasi yang optimal, artinya prestasi yang dicapai sesuai dengan tingkat kemampuannya.     
               Ciri-ciri individu yang memiliki motivasi berprestasi.    Secara intuitif,  orang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan memperoleh prestasi yang tinggi,  bila dibandingkan dengan orang yang motivasi berprestasinya rendah (Saifuddin Azwar, 1989).  Di lain pihak keberadaan motivasi berprestasi pada seseorang dapat diamati melalui sejumlah ciri-ciri tententu.
               John Atkinson (1974)  mengidentifikasikan empat ciri-ciri individu yang memiliki motivasi berprestasi, yaitu: “ free choice, persistance  behavior, intensity of performance, dan risk preference”.  Apabila penulis terjemahkan  ciri-ciri individu yang memiliki motivasi berprestasi menurut  John Atkinson, ialah bebas memilih, tingkah lakunya ulet, kerja keras, dan menyukai tugas-tugas yang berisiko.  Individu yang  motivasi berprestasinya tinggi,  memiliki kecenderungan untuk bebas memilih strategi-strategi yang konstruktif untuk berbuat atau bertingkah laku dalam mencapai tujuan.  Tingkah laku mereka sangat ulet artinya tidak mudah putus asa, ia memandang bahwa kegagalan sebagai indikasi kurangnya usaha, menyukai kerja keras, dan cenderung menyukai aktivitas-aktivitas yang berisiko.
              Ciri-ciri lain dikemukakan oleh Edwards yang dikutip oleh Yuniati dalam Saifuddin Azwar (1999)  ialah : (1) melakukan sesuatu dengan sebaik-baiknya, (2) melakukan sesuatu dengan sukses, (3) mengerjakan sesuatu dan menyelesaikan tugas-tugas yang memerlukan usaha yang terampil, (4) ingin menjadi penguasa yang terkenal atau terpandang dalam suatu bidang tertentu, (5) mengerjakan sesuatu yang sangat berarti atau penting, (6) melakukan suatu pekerjaan yang sukar dengan baik, (7) menyelesaikan  teka-teki dan sesuatu yang sukar, (8) melakukan sesuatu yang lebih baik dari orang lain, dan (9) menulis novel atau cerita hebat dan bermutu.
          Berdasarkan pendapat dan uraian di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa individu yang memiliki motivasi berprestasi, ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut : (1) Ulet dalam melakukan aktivitas, bekerja keras  dengan menggunakan strategi atau metode yang relevan untuk mencapai tujuan. (2) Menyukai tugas-tugas yang berisiko, percaya diri, dan menyelesaikan tugas-tugasnya mengunakan usaha yang terampil. (3) Ingin menjadi penguasa yang terkenal dan terpandang dalam suatu bidang tertentu. (4) Memiliki nilai yang sangat berarti terhadap tercapainya tujuan, dan dorongan bersaingnya sangat tinggi. (5) Melakukan sesuatu lebih baik dengan orang lain. 

               Teori-teori motivasi.   Ada beberapa teori yang mendasari mengapa manusia memiliki dorongan-dorongan yang menyentuh motif (daya) yang berperan menggerakkan perilakunya.  
          Teori yang cukup populer dan hampir dapat diterapkan pada berbagai aspek kehidupan ialah  teori kebutuhan Abraham Maslow (Frank G., Goble, 1987).  Menurut teori ini,  pemenuhan kebutuhan manusia sebagai motivator melakukan aktivitas. Kebutuhan-kebutuhan itu, dirumuskan oleh Maslow dalam teori hirarki kebutuhan (need hierarchy theory),   yaitu : (1). Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (Physiological Needs), yang meliputi : pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, tempat berlindung, sex, dan kesejahteraan individu. (2). Kebutuhan rasa aman (Safety Needs), yang meliputi : perlindungan fisik dan perlindungan psikologis. (3). Kebutuhan sosial (Social Needs), yaitu kebutuhan akan perasaan diterima oleh orang lain, kebutuhan akan perasaan dihormati, kebutuhan untuk ikut serta atau berpartisipasi, dan kebutuhan untuk bisa berprestasi. (4). Kebutuhan akan harga diri (Esteem Needs), yaitu kebutuhan untuk memuaskan egonya, seperti; memiliki mobil bagus, berpakaian indah, status sosial yang tinggi, dan memiliki gelar kesarjanaan. (5). Kebutuhan ingin berbuat yang lebih baik (Self Actualization), yaitu kebutuhan untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu melakukan  sesuatu yang lebih baik bila dibandingkan dengan orang lain. Kebutuhan  terakhir ini mendorong orang memiliki motivasi berprestasi.
           Menurut Mc Clelland dalam teorinya yang disebut teori motivasi sosial,  dikutip oleh  Moh. As’ad (1998) “ timbulnya tingkah laku manusia karena dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang ada pada dirinya”.  Kebutuhan itu yaitu: (1) Need for Achivement, merupakan kebutuhan untuk mencapai sukses. Kebutuhan ini mengarahkan tingkah laku pada usaha untuk mencapai prestasi tertentu.  (2). Need for Affiliation, merupakan kebutuhan akan kehangatan dan songkongan dalam hubungannya dengan orang lain. Kebutuhan ini mengarahkan tingkah laku untuk mengadakan hubungan secara akrab dengan orang lain. (3). Need for Power, merupakan kebutuhan untuk menguasai dan mempengaruhi terhadap orang lain, misalnya kebutuhan untuk memimpin pada suatu bidang pekerjaan tertentu.  Menurut Mc Clelland ketiga kebutuhan tersebut munculnya sangat dipengaruhi oleh situasi yang sangat spesifik. Apabila individu tingkahlakunya didorong oleh tiga kebutuhan  itu, maka akan nampak ciri-ciri : (1) berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif, (2) mencari feed back di dalam perbuatannya, (3) memilih risiko yang sedang yang berarti masih ada peluang untuk berprestasi yang lebih tinggi, dan  (4) mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatannya. 
         Teori lain tentang  motivasi, ialah teori kebutuhan model Edwards. Menurut Edwards yang dikutip oleh Moh. As’ad (1998) “ kebutuhan-kebutuhan yang dapat mempengaruhi motivasi individu  diklasifikasikan menjadi 15 kebutuhan yang nampak pada manusia dengan kekuatan yang berbeda-beda.  Dari kelima belas kebutuhan yang berkaitan dengan motivasi berprestasi ialah kebutuhan achivement, yaitu kebutuhan untuk berbuat lebih baik dari orang lain. Kebutuhan ini mendorong individu untuk menyelesaikan tugas-tugas lebih sukses untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi.
   
C. Pengaruh  budaya terhadap motivasi berprestasi.           
          Perilaku manusia tidak dapat dipisahkan dari budaya. Ia merupakan produk dan sekaligus pencipta budaya.  Budaya adalah daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa (H. Abu Ahmadi, 1991).  Cipta, karya, dan rasa mengikat perilaku individu dalam berbuat, bertindak, dan beraktivitas untuk memenuhi kebutuhannya.
         Motivasi berprestasi merupakan bagian dari tingkah laku manusia, ia berperan memacu motif untuk menggerakkan tingkah lakunya.  Tingkah laku yang digerakkan oleh motif tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan yaitu prestasi yang tinggi dalam aspek kehidupan.  Dengan demikian, motivasi berprestasi juga dipengauhi oleh budaya, di mana manusia bertempat tinggal. 
        Penelitian pengaruh budaya terhadap motivasi berprestasi banyak dilakukan oleh para ahli dalam bidang psikologi.   Marshall H. Segali, et al (1990) mengutip hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh McClelland dan teman-temannya dalam menyelidiki perbedaan anak-anak dengan budaya US, di mana mereka menemukan bahwa skor motivasi berprestasi tinggi pada anak laki-laki berasal dari ibu yang hangat dan suka memberi harapan, dan ayah yang tidak otoriter. Sedangkan skor motivasi berprestasi rendah ditemukan pada anak laki-laki yang berasal dari orang tua otoriter, yang memberikan banyak tuntutan kepada anak-anak mereka selama masa kanak-kanak. 
         Selanjutnya penelitian dilakukan dalam budaya lain di luar Amerika. Rosen yang dikutip oleh Marshall H. Segall, et al (1990) menemukan anak-anak Brazil yang berasal dari keluarga dengan ayah yang otoriter,  memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Begitu juga di Turkey dengan tipe orang tua yang cenderung sangat otoriter, ditemukan anak-anaknya memiliki motivasi berprestasi yang rendah pula.  Hasil penelitian tersebut, menunjukkan bahwa sikap dan perilaku orang tua kepada anak-anaknya yang membentuk suatu budaya tertentu mempengaruhi motivasi berprestasi.
          Pendapat para sarjana antropologi budaya yang dikutip oleh Yapsir Gandi Wirawan (1994)  diketahui  bahwa  dorongan-dorongan dan tingkah laku manusia  di dunia ini berbeda-beda sekali, bergantung pada kebudayaan-kebudayaan setempat.  Seorang anthropologi lain, Ruith Benedict  dalam (Yapsir Gandi Wirawan, 1994)  juga menemukan pada tahun 1934 bahwa dorongan bersaing yang dulunya dianggap sebagai instink itu ternyata juga berbeda-beda bergantung pada kebudayaan yang bersangkutan.  Dorongan bersaing tidak diketemukan pada suku Indian Zuni, Hopi, Arapesh, dan Pueblo. Sebaliknya dorongan bersaing yang sangat berlebihan ditemukan pada suku Indian Kwakiutl.  
          Penelitian tentang  budaya dan motivasi berprestasi belum banyak dilakukan di Indonesia.   Dalam kaitannya dengan motivasi berprestasi,  Saifuddin Azwar (1989)  menyatakan bahwa motivasi berprestasi merupakan fungsi dari variabel-variabel kepribadian yang lain. Dikarenakan motivasi berprestasi bukan merupakan aspek kepribadian bawaan atau diperoleh dari keturunan, melainkan merupakan suatu hal yang dipelajari dan terbentuk dari pengaruh lingkungan. 
          Dari hasil penelitian dan uraian di atas,  diperoleh suatu dasar yang kuat bahwa  betapa besarnya budaya  mempengaruhi motivasi berprestasi individu.  Di sisi  lain,  budaya sebagai  hasil cipta, rasa, dan karsa manusia harus senantiasa dikembangkan untuk memacu perilakunya yang positip. Budaya membentuk lingkungan, dan lingkungan mempengaruhi perilaku manusia.  Dengan demikian dalam  peradapan manusia di era globalisasi ini, pengaruh budaya terhadap perilaku tidak mudah dihindarkan.                  

D. Penutup.
             Sejak lama motivasi berprestasi menjadi salah satu pokok bahasan dan penelitian para ahli psikologi, baik di bidang psikologi sosial, psikologi belajar, dan bidang-bidang psikologi lainnya.  Kehadiran motivasi berprestasi pada diri manusia bergantung pada budayanya.  Di satu pihak, lingkungan budaya tertentu,  berpengaruh positip,  artinya meningkatkan motivasi berprestasi. Namun dalam lingkungan budaya lain, justru  menurunkan motivasi berprestasi individu.
             Lingkungan budaya di mana orang tua memberi suasana hangat, suka memberi harapan, dan tidak otoriter, berpengaruh meningkatkan motivasi berprestasi anak.  Dan sebaliknya lingkungan budaya di mana orang tua bersikap otoriter terhadap putera-puterinya, menurunkan motivasi berprestasi. Pada lingkungan pertama ditemukan pada anak-anak dengan budaya US, begitu juga pada lingkungan kedua. 
         Para sarjana anthropologi budaya berpendapat bahwa dorongan dan tingkah laku manusia di dunia ini berbeda sekali, bergantung pada kebudayaan setempat.  Dorongan bersaing yang dulunya dianggap sebagai instink itu ternyata  berbeda-beda, bergantung juga pada kebudayaan yang bersangkutan.   Dorongan bersaing yang sangat tinggi ditemukan pada suku Indian Kwakiutl. Dan sebalinya pada suku Indian Zuni, Hopi, Arapesh, dan Pueblo, tidak diketemukan dorongan bersaing.
         Budaya merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia, yang mempengaruhi motivasi berprestasi individu.  Secara psikologis motivasi sangat penting dalam memberikan kontribusi terhadap usaha individu, untuk mencapai tujuan.  Dalam konteks ini, perlu diciptakan dan dikembangkan lingkungan budaya yang mampu meningkatkan motivasi berprestasi individu,  dan dihindarkan lingkungan budaya yang merugikannya.

Jumat, 28 Januari 2011

PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY (REBT) UNTUK MENGURANGI IRRATIONAL BELIEF DAN PERILAKU AGRESI PADA PENDERITA SCHIZOPHRENIA PARANOID

Oleh:
Mohammad Shobirin


Meningkatnya kasus gangguan jiwa skizofrenia di masyarakat, dan banyaknya penderita gangguan jiwa yang berperilaku agresif (terutama penderita skizofrenia paranoid), menjadi satu kekhawatiran dan keprihatinan. Selain itu penanganan perilaku agresi pada penderita di beberapa rumah sakit jiwa, cenderung menunggu perilaku agresi itu muncul, dan tidak banyak pendekatan-pendekatan yang digunakan untuk mencegah perilaku agresi itu muncul/berulang. Penelitian ini berusaha untuk melihat sejauhmana kontribusi Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) dalam mengatasi berbagai keyakinan irasional, mengurangi kecenderungan  agresi dan mencegah terjadinya agresi pada penderita. Beberapa hal yang dilakukan adalah mengidentifikasi berbagai keyakinan irasional yang berpengaruh terhadap perilaku agresi pada penderita skizofrenia, dan selanjutnya mengurangi kecenderungan agresi tersebut dengan mengubah keyakinan dan cara pandangnya terhadap realitas. REBT menganjurkan untuk menggunakan metode “selectively ecletic, sehingga dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teknik yaitu rational self analysis, self control, assertiveness dan relaxation.
Penelitian ini dilakukan di Rumkital Dr.Ramelan, Surabaya, dengan mengambil sampel dua orang penderita skizofrenia paranoid, dengan teknik purposive sampling, yaitu dengan menetapkan kriteria: usia antara 25 sampai dengan 50 tahun, tidak dalam fase aktif atau dalam kondisi gaduh gelisah, kondisi mentalnya relatif stabil, tidak dalam kategori skizofrenia yang chronis dan tingkat pendidikan minimal setingkat SMU, serta dari hasil pemeriksaan intelgensi tidak mengalami gangguan fungsi intelektual yang serius. Penelitian ini merupakan quasi experimental, dengan single case subject design.
Teknik analisa yang digunakan adalah, dengan menggunakan analisa kualitatif, peneliti membandingkan berbagai perubahan sebelum  intervensi dan sesudahnya, yaitu terutama terkait perubahan irrational belief dan perilaku agresi dari masing-masing responden. Dari hasil penelitian, Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT) cukup memberikan kontribusi dalam membantu mengurangi irasional belief dan perilaku agresi pada penderita skizofrenia paranoid. Feed back dan rational self analisis, dapat meningkatkan insight responden akan dirinya dan cukup membantu dalam merubah pemikiran dan keyakinan yang irasional, sehingga dapat menurunkan ide-ide permusuhan (hostility). Penurunan hostility tersebut akan berdampak besar pada penurunan beberapa dimensi agresi yang lain yaitu anger, physical agression dan verbal aggression. Perasaan marah akan berkurang dan kecenderungan perilaku agresi fisik atau verbal tidak akan terjadi ketika berbagai pemikiran dan ide-ide permusuhan dalam dirinya direduksi. Relaksasi dan self  control menjadi penguat dan mengurangi ketegangan, serta perasaan tidak nyaman.
Implikasi dari penelitian ini adalah adanya peningkatan kesadaran diri, perubahan pemikiran yang lebih positif, dan keyakinan yang lebih rasional dalam memandang suatu permasalahan, sehingga menjadikan klien mampu mengendalikan diri dari emosi dan perilaku yang tidak sehat.