Laman

*** BINA PSIKOLOGI SURABAYA *** Alamat : Jl. Kedung Tarukan 2 / 31-A Surabaya, Telp. 03170272815 / 0817309685, email : mudhar.bps@gmail.com

Senin, 28 Maret 2011

BERBAGI SMS 332301 (KATA-KATA BIJAK)

KATA-KATA BIJAK datang dari provider yang TIDAK BIJAK melalui SMS 332301 bagi pengguna SMART_FREN, yang menjadi TIDAK BIJAK karena pulsa dipotong Rp.500/SMS, sehari bisa sampai 2 kali dapat SMS. Yang menjadi TIDAK BIJAK  lagi SMS tersebut tanpa harus konfrmasi/regestrasi terlebih dahulu, sepertinya setiap pengguna kartu SMART langsung didaftar sebagai pelanggan SMS Kata-Kata BIJAK.
Berbagai upaya (saya dari berbagai pihak) telah dilakukan, antara lain :
  1. Ketik UNREG BIJAK dan kirim ke 3323 hasilnya nihil ..........NOL BESAR
  2. Ketik STOP 01 dan kirim ke 3323 hasilnya JUGA nihil
  3. Saya browsing di internet untuk menghalangi SMS ini, banyak memang saran yang diperoleh antara lain :
  4. Cara Pertama - Habiskan pulsa - Jangan isi pulsa lagi - Gunakan Hp smart sebagai weker saja; Cara kedua - Habiskan pulsa - Jangan isi pulsa lagi - Gunakan Hp smart sebagai ganjal pintu; Cara ketiga - Habiskan pulsa - Jangan isi pulsa lagi - Jual Hp smart mungkin masih bisa laku 50 rb
  5. Akhirnya call ke 881 (customer service smart) tanggapannya hanya permohonan maaf dan akan  diusahakan bantu secepatnya agar dapat berhenti berlangganan SMS KATA BIJAK, itu saja, dan sangat tidak memuaskan.
  6. Forum Diskusi SMS 332301 di Facebook, baru mendapat kepastian bahwa sudah tidak terdaftar layanan SMS 332301. walaupun sudah berhari-hari pulsa dipotong, tapi cukup melegakan.
Selamat Mencoba semoga berhasil

Jumat, 25 Maret 2011

Negasi = Ingkaran

Negasi sering diterjemahkan menjadi ingkaran, penyangkalan,  peniadaan, kata sangkalan (misal kata tidak, bukan)
Negasi dari x = gasal adalah x tidak = gasal.
Negasi dari lapar adalah tidak lapar.
Negasi dari saya haus adalah saya tidak haus.
Jika saya makan, maka saya kenyang.
Kebanyakan orang mengira negasi dari pernyataan di atas adalah:
Jika saya tidak makan maka saya tidak kenyang.
Ternyata jawaban ini salah, bukanlah negasinya.
Jika saya makan maka saya tidak kenyang.
Jika saya tidak kenyang maka saya tidak makan.
Ternyata negasi dari pernyataan diatas juga dianggap tidak benar.
Negasi yang tepat adalah:
Saya makan dan saya tidak kenyang. Atau
Saya makan tapi saya tidak kenyang
 (DAN = TAPI).
JIKA segitiga sama sisi MAKA besar jumlah ketiga sudutnya adalah 180 derajat.
Negasinya adalah:
Segitiga sama sisi TETAPI besar jumlah ketiga sudutnya adalah tidak 180 derajat.
Semoga bermanfaat.

Kamis, 10 Maret 2011

Dimensi Sosial Dalam Sholat (Persiapan)

Ibadah shalat memiliki dua dimensi, dimensi individual dan dimensi sosial. Dimensi individual adalah bagaimana shalat itu dijadikan sarana untuk berkomunikasi secara individu dengan Allah, walaupun dilakukan secara berjema’ah aspek individualnya dalam berkomunikasi dengan Allah menjadi tanggungjawab pribadi-pribadi yang sholat. Sementara dimensi sosial shalat adalah bagaimana shalat membawa dampak positif bagi lingkungan sosial masyarakat dimana individu yang melakukan shalat itu berada. Bahwa sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, merupakan manifestasi nilai-nilai sosial yang berada dalam sholat.
Orang mungkin sering bertanya, mengapa pada kebanyakan orang yang sholatnya rajin, berkali-kali naik haji, senang shodaqoh, tetapi perbuatannya juga banyak yang kotor, banyak yang hina. Nah dari disinilah salah satunya yang bisa diungkap dimensi sosial dari sholat.

1. Tanda Waktu Sholat (Adzan)
Tanda Waktu Sholat atau Adzan dilakukan untuk menunjukkan bahwa waktu sholat sudah tiba oleh karena itu para kaum muslimin segera datang dan berkumpul ke tempat sholat (masjid atau mosholla ataupun tempat lainnya) untuk menunaikan sholat. Kumandang adzan sebagai penunujuk waktu sholat membuktikan tentang adanya kepedulian dari seseorang (muadzin) untuk menyampaikan kepada masyarakat kaum muslimin bahwa sudah tiba waktu sholat. Kaum muslimin tidak perlu melihat jam lagi untuk mengetahui waktu sholat, kaum muslimin tidak perlu memakai alarm untuk mengingatkan waktu sholat. Bagaimana seandainya tidak ada adzan, kemungkinan besar banyak kaum muslimin yang kelewatan bahkan mungkin lupa akan waktu sholat. Adanya bentuk kepedulian dari muadzin inilah yang banyak membantu masyarakat muslim untuk mengingatkan waktu sholat.

2. Iqomah
Iqomah adalah seruan ataupun tanda bahwa sholat akan segera dimulai. Isi iqomat adalah mirip dengan isi adzan, meski ada beberapa perbedaan yg cukup signifikan. Jika adzan hanya memberitahu bahwa waktu sholat telah tiba, sedangkan iqomah memberitahu bahwa sholat akan dimulai, sehingga semua jema’ah sholat pada berdiri membentuk barisan (shof).

3. Barisan dalam Sholat (shof)
Barisan dalam sholat (shof) juga tidak lepas dari dimensi soalnya. Shof atau barisan diharuskan rapat dan lurus adalah untuk memberikan ruang kepada yang lain. Bagaimana seandainya shof dibuat atas kemauannya sendiri. Selain dari aspek estitika yang kurang baik, dari aspek sosial juga sangat penting. Kepedulian dan saling berbagi kepada orang lain juga dapat dilihat dari pengaturan shof dalam sholat ini.

Tentang siapa yang berhak menempati shof pertama, shof kedua, shof ketiga dan seterusnya diatur berdasarkan siapa yang datang lebih awal. Usia, pangkat, jabatan, kekayaan, kiyai, ustad, atau apa saja bukan ukuran untuk menempati shof tertentu. Barangsiapa yang datang paling awal dia berhak menempati shof pertama (dekat dengan imam). Demikian besar dimensi soalnya dari sholat, bahkan dari persiapan sholat.

Senin, 28 Februari 2011

Rahasia Pernikahan Bahagia: "No Sex Before Marriage"

Hidayatullah.com--Studi terbaru menyimpulkan bahwa pasangan yang tidak berhubungan seks sebelum menikah akan memiliki hubungan yang lebih kuat di masa depan.

Para peneliti di School of Family Life, Brigham Young University di Utah Amerika Serikat mewawancarai 2.035 suami-istri soal hubungan intim pertama mereka.

Analisis hasil wawancara menunjukkan bahwa pasangan yang berhubungan intim setelah jadi suami-istri, memiliki hubungan yang jauh lebih sehat dibandingkan yang mulai bersetubuh sejak awal pacaran.

Pasangan yang melakukan \"no sex before marriage\" punya 22 persen lebih tinggi dalam stabilitas hubungan, 20 persen lebih baik dalam tingkat kepuasan hubungan, Mereka juga 15 persen lebih bagus dalam kualitas seks, dan 12 persen lebih bagus dalam komunikasi suami-istri.

Bagaimana terhadap pasangan yang mulai berhubungan intim setelah mereka lama pacaran, tapi sebelum jadi suami-istri? Jawabnya, hanya setengah dari angka-angka di atas.

Menurut para peneliti, hubungan seks sebelum menikah artinya pasangan terlalu menekankan soal fisik dalam hubungan mereka, bukannya soal percaya, setia, dan komitmen.

Profesor Dean Busby, pemimpin penelitian itu, mengemukakan, \"Banyak penelitian dengan topik tersebut memfokuskan diri pada pengalaman individu tentang seks. Hubungan pasangan bukanlah sekedar seks, dan penelitian kami menemukan bahwa mereka yang menunggu hingga jadi suami-istri akan lebih bahagia dalam aspek seksual. Saya pikir ini karena mereka lebih dulu belajar untuk bicara satu sama lain dan melatih diri untuk menyelesaikan masalah.\"

Pendapat tersebut didukung oleh Mark Regnerus, penulis buku \"Premarital Sex in America\".

Menurut dia, pasangan belum menikah tapi sudah berhubungan intim, banyak merasakan hubungan mereka tak cukup terbangun. Ini mereka rasakan saat waktunya hubungan harus lebih stabil dan saling percaya.

\"Apapun agama mereka, menunggu hingga jadi suami-istri akan membuat proses komunikasi jadi lebih baik dan meningkatkan mutu stabilitas hubungan pada jangka panjang dan kepuasan menjalani hidup dengan pasangan.\" [ant/hidayatullah.com]

Selasa, 22 Februari 2011

Stress

Kata stres berasal dari bahasa latin, yaitu “strictus” yang berarti “tight” (ketat) atau “narrow” (sempit) dan “stringere” yang berarti memperketat. Kedua akar kata ini lebih diartikan sebagai perasaan-perasaan internal individu saat mengalami tekanan. Pengertian seperti ini digunakan para ahli hingga akhir abad 19 dan setelah itu pengertian tentang stres terus mengalami perkembangan.
            Menurut Fraser (1992), sejak dulu merupakan istilah yang sulit didefinisikan bagi sementara orang. Stres dan ketegangan itu sinonim atau sama yaitu menggambarkan suatu keadaan fisik yang telah mengalami berbagai tekanan yang melampaui batas ketahanan.
            Menurut Selye (1975) Stres merupakan bagian dari kehidupan dan stres bukanlah hal yang harus dihindari, Kebebasan mutlak dari ganguan stres sesungguhnya hanya didapat melalui kematian. Setiap mamusia tidak dapat terhindar dari stres, terutama bila dihubungkan dengan masalah sosial, pekerjaan, kehidupan sehari-hari, kehidupan keluarga, dan sebagainya. Para eksekutif, para pelajar maupun ibu rumah tangga senantiasa pernah mengalami stres. Stres menyerang tanpa pandang bulu, baik itu laki-laki atau perempuan, tua muda, kaya miskin, semua pernah mengalami apa yang disebut sebagai stres.
            Beberapa ahli mencoba mendefinisikan konsep tentang stres, diantaranya, Maramis (1980) menyatakan stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri yang mengganggu keseimbangan. Dalam kehidupan manusia tidak akan terlepas dari apa yang disebut stres. Tanpa stres hidup manusia akan terasa membosankan, tidak ada tantangan untuk maju. Dalam keadaan stres seseorang harus berjuang mengatasi kesulitan sesuai dengan kemampuan. Bila manusia tidak dapat mengatasi masalah dengan baik, maka akan muncul gangguan badan atau bahkan gangguan jiwa.
            Menurut Anorogo dan Widyawati (1995), stres ialah suatu akibat dari tekanan emosional, rangsang-rangsang atau suasana yang merusak keadaan fisiologis seseorang.
            Menurut Atkinson (1993) stres adalah suatu yang terjadi pada seseorang, tekanan atau stresor juga datang dari dalam diri, keyakinan individu dan harapan individu mengenai dunia dan dirinya sendiri dari kebiasaan dan perilaku dan dari kepribadian individu.
            Berdasarkan pendapat para ahli tersebut diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa stres dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mengganggu keseimbangan individu, baik secara fisiologis maupun psikologis untuk bereaksi terhadap tuntutan lingkungan tempat individu berada dan tuntutan tersebut telah melampaui kemampuannya untuk mengatasi secara adaptif .

Sabtu, 12 Februari 2011

Kesiapan Psikologis dalam Menghadapi Pernikahan

   Perkawinan merupakan hukum Allah yang berlaku untuk sebagian besar makhluk hidup yang ada di muka bumi ini, dan merupakan salah satu cara dari makhluk hidup tersebut untuk memelihara dan melestarikan keturunannya. Dengan kawin, kelangsungan hidup garis keturunan dan kelestarian speciesnya akan mampu dipertahankan dari kepunahan.
    Berbicara tentang perkawinan, mungkin lebih baik kita lebih memperjelas dan mempertegas tentang arti dari “perkawinan” itu sendiri, terutama pengertian tersebut dikaitkan dengan kehidupan manusia. Seekor kambing betina telah hamil dan melahirkan, ini adalah hasil perkawinan. Bahkan ada sapi betina yang hamil tanpa pernah bertemu dengan sapi jantan, yang disebut dengan “kawin suntik”. Menurut Undang-Undang Perkawinan No. 1/1974, perkawinan adalah ikatan lahir-batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan untuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ke-Tuhanan Yang Maha Esa. Pengertian perkawinan menurut Undang-Undang No. 1/1974 tersebut sebenarnya lebih tepat kalau dikatakan pernikahan, karena pengertian “perkawinan” sudah lebih banyak atau lebih umum digunakan untuk menjelaskan hubungan seksual atau hubungan dua alat kelamin antara alat penis dan vagina, sehingga kawin dan nikah adalah dua hal yang berbeda yang tidak dapat dipersamakan dan untuk selanjutnya istilah perkawinan menurut Undang-Undang tersebut saya ganti dengan istilah pernikahan.
     Jika kita amati pengertian tersebut, maka pernikahan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal dari dunia sampai dengan akhirat. Pernikahan bukan sekedar legalitas dari perasaan cinta, asmara dan pemuasan nafsuh belaka, namun ada banyak hal yang lebih mendalam didalam tirani pernikahan, yaitu hak dan tanggung jawab masing-masing orang (suami, istri dan anak serta anggota keluarga yang lain). Dengan demikian ada beberapa hal yang dapat saya sampaikan :
1.  “Kawin” lebih mudah daripada “nikah”
2.  “Kawin” tanpa nikah adalah celaka
3.  “Nikah” tanpa kawin adalah sengsara
      Timbulnya keinginan untuk melakukan perkawinan atau hubungan seksual pada manusia dimulai sejak masa puber, dimana organ-organ seksualnya atau alat reproduksinya sudah mulai berfungsi, yang laki-laki ditandai dengan mimpi basah dan bagi yang perempuan ditandai dengan menstruasi, antara usia 12 s/d 15 tahun. Secara fisik remaja yang sudah pernah mimpi basah atau menstruasi sudah siap untuk kawin, sudah siap dibuahi dan membuahi, namun secara sosial, psikologi dan ekonomi masih perlu dipertanyakan.
      Sering kali “cinta” dijadikan modal utama dan satu-satunya untuk menjalani hidup berumah tangga bagi remaja tanpa memperhitungkan aspek lain, sehingga tidak jarang remaja yang jatuh cinta mengalami “buta tuli”, tidak mampu lagi melihat mana yang baik dan mana yang buruk, tidak mampu lagi mendengar suara-suara kebenaran yang dikatakan orang tua. Padahal mereka tidak akan pernah tahu, apakah psangannya benar-benar mencintai atau tidak, yang ada hanya ucapan-ucapan cinta yang manis, belaian tangan yang mesra, kesetiaan dan kesediaan untuk datang apel, yang semuanya itu belum tentu sesuai dengan hatinya yang sebenarnya, atau mungkin kesetiaan dia hanya bersifat sementara, ketika dia hanya mampu melihat dan mendengar masnisnya asmara. Dengan demikian “saling mencintai” tidak cukup untuk modal sebuah pernikahan, kesiapan emosi bagi calon mempelai sangat dibutuhkan.
      Kematangan emosi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup berumah tangga. Bertambahnya umur seseorang tidak menjamin bertambah matangnya emosi, artinya remaja yang sudah berumur 25 tahun belum tentu lebih matang emosinya dibandingkan dengan remaja yang masih berumur 20 tahun. Kematangan emosional dapat ditandai dengan :

a. Cinta Kasih (kasih-sayang)
Mengartikan “cinta” tidak hanya sebatas suka-sama suka, namun ada nilai-nilai yang lebih konpleks, adanya tenggang rasa, toleransi, solidaritas, tanggungjawab dalam segala kehidupan berumah tangga. “Cinta” bukan berarti adanya kemauan untuk melakukan hubungan seksual.
b. Emosi yang terkendali
Rasa ingin marah, benci, cemburu, cinta, senang, bahagia adalah suatu dari emosi yang mungkin terjadi pada setiap orang. Perasaan-perasaan ini adakalanya datang atau muncul dengan tiba-tiba, apakah karena adanya sebab, ataupun tidak tanpa adanya penyebab yang jelas. Semua emosi harus mampu kita dikendalikan, baik emosi yang mengarah ke negatif maupun mengarah ke positif. Artinya walaupun kita amat sangat mencintai sekali, bukan berarti kita harus memberikan apa saja kepada orang yang dicintai, perasaan cinta harus dikendalikan dan dibatasi. Tidak sedikit pasangan suami istri yang cerai hanya kurang mampu mengendalikan emosi.
c. Emosi yang terbuka
Mengendalikan emosi bukan berarti tidak boleh marah, tidak boleh sedih, tidah boleh cemburu. Rama marah dan cara cemburu perlu ditampakkan, agar orang lain dapat mengetahui apa yang kita rasakan. Selain itu kita juga harus terbuka terhadap kritik dan saran yang diberikan oleh orang lain.
d. Emosi yang tearah
Melampiaskan emosi bukan suatu hal yang “haram” dalam suatu rumah tangga, namun harus proporsional dan sesuai dengan fakta yang ada. Kata orang tidak membabi buta, asal “nyeruduk”. Kalau memang waktunya marah, ya marah, namun harus tahu kepada siapa harus marah. Marah dikantor dibawa pulang.
-    Kesiapan yang lain bagi calon PASUTRI yang perlu diperhatikan, bahwa pernikahan tidak sekedar mempersatukan dua orang yang berbeda jenis kelamin kedalam suatu ikatan pernikahan, namun juga mempersatukan nilai-nilai, sikap, kebiasaan, kebudayaan, bahkan dua keluarga besar yang pasti sangat berbeda, agar tidak terjadi konflik.
-    Adanya hak dan kewajiban bagi suami atau istri, sehingga masing-masing berkewajiban untuk mejalankan tugasnya sebagai seorang istri maupun sebagai seorang suami.
-    Adanya norma baru yang berlaku.


Pra-Nikah bagi Remaja
        Bagaimana remaja menyikapi era global sekarang ini, dimana informasi yang diterima sudah semakin mudah dan murah. Rp. 3.000,- sudah cukup untuk menonton film porno, dan untuk mendapatkannya tidak perlu jauh-jauh, sebelah kanan-kiri kita, sudah banyak menyediakan. Ada tiga pokok pikiran untuk menghadapi medan situasi lingkungan yang semakin merusak moral, yaitu :
1.   Syariat agama
Syariat agama merupakan benteng kuat didalam menghadapi badai lingkungan yang setiap saat dapat mengancam para remaja. Taat dan manut kepada Allah dan Rasulnya insyaallah akan selamat dan terhindar dari badai moral yang dahsyat.
Yang terjadi, remaja 90% meletakkan dirinya sebagai “lekaki” atau “perempuan” dan 10% meletakkan dirinya sebagai manusia. Kalau manusia minat dirinya pada akal budi, sedangkan lekaki atau perempuan minatnya lebih pada halusnya kulit, besarnya payudara, ukuran celana dalam, staminanya, dan seterusnya.
2.   Pendekatan Ilmu dan pengetahuan sosial
Kesadaran akan pentingnya pendidikan sudah terlihat dengan semakin sedikitnya orang yang buta huruf. Namun pendidikan yang dilakukan, baik disekolah, dirumah maupun dalam lingkungan sosial, lebih menekankan pada perubahan knowlidge (pengetahuan) saja, sedangkan pada kesadaran dan pemahaman tentang pengetahuan tersebut, masih belum. Remaja hanya diberikan bahwa yang ini halal yang itu haram, yang ini boleh yaitu itu tidak boleh, tanpa diberikan mengapa itu boleh, mengapa tidak boleh.
3.   Pendidikan cinta
Pendidikan cinta merupakan ilmu yang kurang laku, berbeda dengan pendidikan seks, walaupun bayar mahal pesertanya tetap akan membludak.
Namun pengertian cinta telah mengalami penyempitan, menjadi hubungan lelaki-perempuan, padahal cinta lebih luas mencakup hubungan laki-laki dan perempuan, manusia dengan manusia, manusia dengan Allah, manusia dengan alam.


Tahyul dalam Pernikahan
-    Tidur beralas koranpun tidak apa-apa, asal saling mencinta. Kenyataannya, banyak pasutri yang bercerai dab menikah lagi dengan orang yang lebih kaya.
-       Melakukan hubungan seks pra-nikah membuktikan rasa cinta. Padahal kita tidak pernah tahu tentang kebenaran cintanya.
-       Bibit, bebet dan bobot sangat berpengaruh terhadap keabadian berumah tangga.
-       Gadis selalu berdarah pada waktu malam pertama.
-       Suami selalu diatas, dominan, pencari nafkah sedangkan istri harus pasif, diam dirumah, mengurus anak.

Jumat, 11 Februari 2011

Manfaat Mengenal Bakat

1. Untuk mengetahui potensi diri
Bakat merupakan kemampuan yang lebih menonjol daripada yang lain, baik secara intelektual (teoritis) maupun secara praktis. Bakat merupakan potensi yang dimiliki seseorang karena faktor genetik. Potensi yang dimiliki anak banyak ragamnya, bisa ratusan bahkan ribuan potensi yang dimiliki, namun tentunya hanya ada satu atau dua potensi yang paling menonjol. Tidak mungkin semua potensi yang dimiliki dapat dikembangkan semuanya, hanya potensi-potensi tertentu yang paling menonjol saja yang perlu dikembangkan. Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita jadi tahu potensi kita dan bisa dikembangkan.
2. Untuk merencanakan masa depan
Meraih masa depan harus dipersiapkan sejak dini, perencanaan masa depan atau cita-cita perlu menjadi pertimbangan yang sangat penting.  Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa merencanakan mengembangkannya dengan demikian juga turut merencanakan masa depan
3. Untuk menentukan tugas atau kegiatan
Efektivitas pekerjaan sangat tergantung dari bekal kemampuan yang dimiliki, ketika aktivitas pekerjaan sesuai dengan bakatnya entunya hasilnya akan jauh lebih bagus atau lebih maksimal dari pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat atau potensinya. Dengan mengetahui bakat yang dimiliki, kita bisa memilih kegiatan apa yang akan kita lakukan sesuai dengan bakat yang kita miliki.